Bunga
Mawar adalah bunga yang banyak mengajarkan dan memberi
pelajaran dalam kehidupan kita yang tiada pernah sempurna dan tidak akan kekal abadi. Segala rasa yang timbul dari diri, hati kita, yang paling dalam,
atau pikiran kita tidak ubahnya seperti bunga mawar. Bunga Mawar adalah bunga
yang indah dan menawan yang membuat setiap orang ingin memetik dan memilikinya,
dan pada saatnya dia akan gugur dan mati dan akan tiba saatnya ia lenyap dari
kehidupan ini.
Meskipun
tanpa menggunakan kata-kata sebenarnya dia ingin berkata kepada kita. Sesungguhnya tidak ada yang kekal dan abadi, bahkan apa saja yang sekarang kita
lihat indah sekarang ini pada suatu saat akan menjadi sesuatu yang terbuang dan
tiada berarti.
Bunga mawar mengajarkan kepada kita janganah menjadi seorang
manusia yang lemah, mudah terbawa oleh perasaan, dan janganlah pula suka mencari
kesenangan, kebahagiaan atau keindahan hanya sesaat karena hal tersebut akan
memberi kita suatu kehampaan belaka dan akan menimbukan luka yang sangat dalam.
Bunga Mawar
di pandang sebagai suatu bahasa simbol dari hidup dan kehidupan yang lebih
bersifat rohaniah dari pada lahiriah. Di dalam filosofis simbolisme dan
mistikisme bunga mawar oleh sifatnya yang total mendalam ini kami
ungkapkan dengan lambang, lambang bisa berupa cerita, perumpamaan, warna, rupa
dan lain sebagainya. Bunga mawar adalah lambang hidup dan kehidupan manusia,
sedangkan manusia adalah makhluk yang paling ajaib dan penuh dengan misteri.
Tak ada
satu manusia pun di dunia ini yang mampu mengenal manusia secara tunta, apa
yang di ketahui oleh manusia itu hanyalah sedikit sekali. Betapapun suami dan
istri mengenal dan mencintai pasangannya dan betapapun cinta kasih sayang
seorang ibu bergaul dengan anaknya, namun orang lain atau anak itu tetap
menjadi teka-teki dan misteri bagi ibunya.
Bahkan dirinya sendiri pun sebetulnya
juga merupakan suatu teka teki dan misteri bagi dirinya sendiri. Manusia
berkeinginan mencoba untuk melakukan refleksi dan mendapatkan jawaban tentang
misteri manusia. Apa dan siapa manusia itu ...? dan siapakah aku ini ...?.
Berbicara
mengenai mawar hampir selalu di
kait-kaitkan sosok tanaman yang memiliki keunikan dan memiliki ciri khas tersendiri di banding
dengan bunga lainnya, bagaimana kita melihat bunga mawar, apakah yang lebih
nampak duri-durinya atau justru kelopak bunganya yang indah, bunga mawar bisa
di petik, ini adalah sebuah hikmah atau pelajaran bagi yang berpikir positif akan lebih
mengagumi keindahan mawar dan bagi orang yang suka berpikir negatif mereka hanya melihat
duri-durinya.
Sesungguhnya
cinta adalah sebuah nikmat dari Tuhan yang harus kita jaga, susah dan senang
berasal darinya, mawar juga bunga cinta, jika tiada suatu rasa yang benar-benar
bertekad untuk mempertahankan cinta tersebut, ajan tetapi bila cinta tersebut cinta antara makhluk akan binasa. segala
cerita yang telah tergores akan terhapus dengan begitu mudahnya, dan saat kita hanya
menyukai segala sesuatunya hanya dari sisi luar atau hanya dari keindahan sesaat, maka
kehancuranlah yang menanti. sebenarnya cinta adalah suatu nikmat dari Tuhan yang harus kita jaga, sedih dan
senang berawal darinya.
Belajar
dari filosofi bunga mawar dia adalah sosok bunga yang hidup secara mandiri di dalam
kesederhanaannya dan tanpa iri melihat keindahan atau kemewaan yang ada di sekelilinya,
namun bunga mawar tetap akan memberikan
keindahan yang mempersona dan bermanfaat bagi orang lain. dia bisa tumbuh di tempat yang tandus sekalipun, dia juga di petik tak dapat lagi tumbuh tetapi mawar tersebut
tidak akan langsung mati, keindahan sang mawar tetap ada saat ia belum layu.
Mawar
sudah terbiasa hidup di atas tangkai yang kecil serta dahannya yang penuh oleh
duri yang menantang namun mawar tetap mampu mengatasinya dengan penuh kesabaran
dan keikhlasan dan ketika sampai pada puncak kesuburannya sebagai kejayaannya
mawar tetap tidaklah dia sombong dan ketika layu pun ia harus turun dari
keudukannya dia tidak prustasi namun secara selangkah demi selangkah mawar akan
menyesuaikan diri untuk memahami dan menerima serta menyadari bahwa hidup di
dunia ini tidak ada yang kekal abadi.
Kami
selaku Pengasuh Majelis Mawar Qodiriyah menjadikan dan mengadopsi Bunga Mawar sebagai
nama dan simbol karena bunga mawar memiliki arti dan makna yang sangat mendalam.
Sesungguhnya apa arti dan makna di balik
rahasia sebenarnya …?
Mawar
adalah bunga yang indah rupanya, bermacam-macam warnanya ada merah Tua, Merah
Muda, Hitam dan ada pula yang Putih, semuanya menawan hati. Begitu pula
bentuknya yang bulat/bundar berkelopak-kelopak sangat menarik
perhatian. Karena itulah dalam dunia sastra Mawar menjadi simbol
kecantikan dan sering kali gadis yang mempersona di ibaratkan sebagai Bunga
Mawar.
Firman
Allah Swt. Di dalam Kitab Suci Al’Quran menyatakan “ Faa’ijan saq’qotis samaa’u
faka’nat wardhatan kad’dihaani ”
Artinya : Maka apabila langit telah terbelah maka ia menjadi Mawar merah
seperti kilauan minyak. ( QS Ar-Rahman ayat 37 ).
Dalam
dunia Sufi, Mawar pun menjadi simbol paling tidak di lingkungan Tarekat Sufi
yang mula-mula berkembang di Bagdad ini mengambil Mawar sebagai simbol. Namun
bagi kaum Qodiriyah, Mawar di jadikan
simbol bukan karena harum baunya dan indah rupanya.
Tapi
karena berkaitan dengan peristiwa yang dialami oleh Sulthan Aulia Syekh Abdul
Qodir A-Jailani pendiri tarekat Qodiriyah tersebut. Dan Qodiriyah adalah dua
nama yang tidak akan terpisahkan karena nama Qodiriyah diambil dari namanya
Abdul Qodir, artinya : pengikut Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.
Sebenarnya
yang memberi nama bukanlah beliau sendiri melainkan para murid-muridnya, untuk
membedakan dengan penganut tarekat yang lain, karena memang selain Tarekat
Qodiriyah banyak juga tarekat-tarekat yang lain yang sudah lama
berkembang.
Nama sebenarnya beliau
adalah Syekh Abdul Qodir Al-Kilaniy/Al-Jailani pembangun Tarekat Qodiriyah.
Istilah “ Jailani ” yang artinya “ telah tajalli Allah kepadaku ” sedang
mencantumkan gelar “ Al-Kilaniy ” adalah menunjukkan tempat kelahiran beliau di
desa Kilani yang berada di wilayah Iraq.
Tarekat
juga dapat diartikan “ Organisasi ” karena didalam tarekat tersebut ada
Struktur kepemimpinan dan aturan yang mengikat sesama anggota, begitu pula di
dalam lingkungan Tarekat Qodiriyah ada aturan yang harus dipatuhi, dan aturan
itu mengatur hubungan antara sesama saudara seperguruan dan hubungan antara
murid dengan guru.
Aturan
tersebut sama sekali tidak di rasakan berat, karena ada hubungan emosional yang
sangat kuat diantara majlis, jamaah, apa pun yang di perintahkan guru pasti
dengan senang hati di laksanakan dan dikerjakan oleh para murid. Setiap Pesantren, perguruan, padepokan,
paguyuban, majelis atau suatu perusahan, dll, memiliki suatu makna simbol
tersendiri, begitu juga dengan ( Majelis Mawar Qodiriyah ) yang mengambil dan mengadopsi simbol nama
Mawar tersebut.
Yang bersangkut
paut dengan peristiwa yang di alami oleh Sulthan Aulia Syekh Abdul Qodir
A-Jailani pendiri Tarekat Qodiriyah tersebut. Syekh Syihabuddin Umar
Suhrawardi salah satu tokoh Tarekat Qodiriyah menceritakan “ Bahwa pada suatu
hari Syekh Abdul Qodir Al-Jailani berangkat meninggalkan kampung halamannya
menuju Bagdad, Kota yang saat itu menjadi pusat kebudayaan Islam pada waktu
itu.
Perjalanan
ini bukan perjalan biasa, tetapi perjalanan yang istimewa, beliau pergi untuk
meningkatkan derajat ruhani. Dalam
perjalanan itu beliau di bimbing oleh Nabi Khoidir As, sebagai pemimpin ruhani,
yang pernah mengajari Nabi Musa As, dan menjumpai Sufi terkemuka seperti
Ibrahim bin Adham, Malik bin Dinar, Sufyan Ats Tsauri, Abu Yazid Al Bustami dan
lain-lainnya “.
Sesampainya
di tempat tujuan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani di sambut oleh seorang Syekh
bernama Ali Al-Wahidi Al-Qodiri, Syekh tersebut menyodorkan sebuah cawan berisi
air. Hal ini sebuah isyarat bahwa Bagdad sudah di penuhi orang-orang Suci
sehingga tidak ada tempat bagi yang lain, juga bagi Syekh Abdul Qodir
Al-Jailani.
Isyarah
itu di jawab oleh Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dengan meletakkan sekutum Bunga
Mawar di atas cawan berisi air tersebut, yang artinya Bagdad masih menyisahkan
tempat bagi dirinya. Melihat hal demikian itu semua yang hadir serentak
berkata ‘’ Syekh adalah Mawar kami ’’. Dan di kemudian hari para murid-murid
beliau mengambil Mawar sebagai simbol mereka, selama beberapa generasi dan
simbol tersebut di pertahankan secara
turun temurun hingga sekarang.
STRUKTUR
MAWAR
1. Mawar
itu terdiri dari lingkaran putih, helai daun, paduan warna dengan 7 kelopak
bunga, semua itu mengandung makna tersendiri.
2 .
Lingkaran putih terdiri dari luar dan dalam antara lain : A . Bagian luar :
Terdiri atas Syariat dan Tarekat, adapun Syariat melambangkan perbuatan atau
ucapan. sedang Tarekat melambangkan hati atau suatu amalan.
B . Bagian
dalam : Terdiri atas Hakekat dan Marifat, adapun Hakekat melambangkan nyawa
atau penglihatan ruhani terhadap Tuhan, sedangkan Marifat itu rahasia atau
kenyataan yang sebenarnya, Hakekat tidak akan dapat di pisahkan kecuali oleh
orang yang memiliki Marifat.
3 . lima
helai daun itu melambangkan lima keutamaan bagi kaum muslim yaitu : Syahadat,
Sholat, Puasa, Zakat dan ibadah haji.
4 . Enam
helai daun melambangkan enam karakter keimanan yaitu : Percaya kepada Allah
swt. Percaya kepada Malaikat, Percaya kepada Kitab, Percaya kepada
Rasul-rasulnya, Percaya hari Kiamat, Percaya kepada Qadha dan Qhadar.
5 . Tujuh
helai daun melambangkan melambangkan tujuh ayat Al-Quran, jadi seluruh helai
daun berjumlah delapan belas mengandung arti bahwa Nabi Besar Muhammad SAW
sebagai pembawa rahmat bagi delapan belas alam.
Dalam
hadist Qudsi Allah berfirman ( Laulakalaulaka ma kholaqtul as’ya’a ). Dan artinya : “ Kalau bukan engkau, kalau
bukan engkau ( Hai Muhammad ) tidak kujadikan semua alam” Muhammad adalah
rahmat bagi alam semesta dan segala isinya. Rahmat selalu ada dimana-mana,
waktu yang lalu, sekarang atau yang akan datang. Rahmat datang dari sifat
Rahmaniyah dan Rahimiyah Allah swt. Sifat tidak terpisah dengan Zatnya.
6 .
Selanjutnya warna yang ada pada Mawar itu mempunyai arti tersendiri seperti :
warna kuning melambangkan Syariat, warna putih melambangkan Tarekat, warna
hitam melambangkan Hakekat, warna merah melambangkan Marifat.
A . Adapun
Syariat yang di artikan “ Tata hukum ” di sadari bahwa dialam semesta ini tidak
ada yang terlepas dari apa yang di namakan “ Hukum ” termasuk untuk manusia
sebagai makhluk sosial dan sebagai hamba Allah, perlu di atur dan di tata
sehingga terciptalah keteraturan yang menyangkut hubungan antar manusia dan
manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhannya.
B . Adapun
Tarekat yang di artikan “ Jalan ” untuk mengetahui adanya suatu jalan, perlu
juga mengetahui “ Cara ” untuk melintas jalan agar tujuan kita tidak salah
langkah /kesasar. Tujuan adalah kebenaran,
maka cara untuk melintas jalan harus dengan benar pula.
C . Adapun
Hakekat yang di artikan “ Kebenaran ” atau kenyataan asal yang
sebenar-benarnyanya, kebenaran dalam hidup dan kehidupan inilah yang harus di
cari dan ini pulalah yang di tuju manusia yang sebenarnya.
D . Adapun
Marifat di artikan “ Mengenal ” siapa yang mengenal dirinya, sesungguhnya dia
dapat mengenal Tuhannya. Diri ini penuh dengan serba ketergantungan,
kekurangan, kelemahan, di banding dengan Allah yang memiliki kebesaran,
kekuasaan dan kekekalan serta memiliki sifat-sifat kesempurnaan.
E .
Keempat bagian ini ( Syariat, Tarekat, Hakekat dan Marifat ) adalah sudah
merupakan satu kesatuan yang tidak akan bisa di pisah-pisahkan masing-masing,
apabila gugur atau lepas salah satunya berarti gugur lepas pula keseluruhannya.
7 .
Sedangkan kelopak bunga itu terdiri dari tujuh helai yang melambangkan tujuh
nama Tuhan, yang di ucapkan di dalam berzikir.
A . Pertama : lafad, la ilaha ilalloh dengan
cahaya biru.
B . Kedua
: lafad, Allah dengan cahaya kuning.
C . Ketiga
: lafad, Hu dengan cahaya merah.
D . Keempat
: lafad, Hayyu dengan cahaya putih.
E . Kelima
: lafad, Wahid dengan cahaya hijau.
F . Keenam
: lafad, Aziz dengan cahaya hitam.
G . Ketujuh
: lafad, Wadud tanpa warna cahaya.
Ke tujuh
warna tersebut melambangkan cahaya putih ( Allah ) dengan delapan belas
gumpalan darah beku melambangkan huruf Hijaiyah dalam kata ( Hayyu ). Huruf (
Ha ) nilainya angka 8 sedang huruf ( Ya ) nilainya angka 10, jadi jumlahnya semua 18.
Dan di
tengah-tengah bunga mawar tersebut terdapat Cincin Nabi Sulaiman As, kalimat
Sulaiman terdiri dari 5 huruf Hijaiyah yaitu : Sin, Lam, Ya, Mim, dan Nun. (
Huruf Sin artinya : Terbebas dari kelemahan. Huruf Lam artinya : Cenderung akan
kehalusan. Huruf Ya artinya : Kekuatan visi spiritual. Huruf Mim artinya : Keakraban dengan sahabat. Huruf Nun artinya : Doa dan salam hanya bagi milik
Allah semata-mata ).
Di
kalangan ilmu tasawuf atau ulama sufi banyak yang mengungkapkan ajaran dengan
ilustrasi berupa isyarah huruf, meskipun hal itu tidak bisa di jadikan suatu
rumusan yang bisa di sebutkan sebagai dalil atau nas. Tetapi pengertian yang di
tangkap dari rumusan itu memberikan kepuasan tersendiri bagi kalangan sufi dan
para saliknya.
Lebih-lebih kalangan ahli
hikmah beranggapan bahwa huruf dan angka merupakan bagian yang tidak bisa di pisahkan
dan di tinggalkan, huruf dan angka tersebut memiliki daya magis, memiliki
rahasia, tidak akan dapat memahaminya kecuali orang-orang yang Allah pilih.
Untuk
mencapai tingkatan dalam ilmu tasawuf di atas jalannya sangat sukar dan sulit,
tidak semudah seperti seseorang naik kelas atau naik tingkatan di Universitas.
Oleh karena itu pengetahuan ini di sebut “ Jananasandhi “ ( rahasia pengetahuan
) atau yang belum terbuka mata hatinya. mengingat
pengalaman spiritual itu bersifat individuil/pribadi, maka tingkatan-tingkatan
tersebut bukanlah suatu keharusan. Dan proses tatarannya tidaklah sama bagi
tiap-tiap orang.
Sedang persyaratan yang menentukan untuk dapat menemukannya
adalah atas Ridho dan kemurahan Tuhan sendiri, manusia tidak mungkin dapat
memaksa Tuhan untuk menampakkan dan menyatakan dirinya. Tuhan hanya dapat di
pahami dengan pengetahuan Tuhan sendiri dan sinar cahayanya hanya dapat sampai
ke manusia kalau Tuhan menghendakinya.